Oleh: Noviani Paputungan | Masyarakat Biasa
INDO POST – OPINI. Di usia ke-72, Kabupaten Bolaang Mongondow seharusnya tidak lagi sibuk merayakan simbol, melainkan menagih substansi. Angka itu bukan sekadar penanda historis, melainkan cermin panjang dari perjalanan yang mestinya telah melampaui fase pencarian jati diri. Namun realitas berkata lain, Bolmong justru tampak seperti daerah yang terlalu lama terjebak dalam romantisme masa lalu, tanpa keberanian menatap kenyataan hari ini.
Sejak gelombang pemekaran daerah pasca-2007, Bolmong berkali-kali dielu-elukan sebagai “induk yang melahirkan kemajuan.” Tetapi mari jujur, apakah pemekaran benar-benar melahirkan kesejahteraan, atau sekadar memperbanyak pusat kekuasaan baru yang gemar memproduksi retorika? Di tengah euforia administratif itu, masyarakat justru dipaksa hidup dengan persoalan klasik kemiskinan struktural, infrastruktur timpang, dan akses layanan publik yang masih jauh dari kata layak.
Ironisnya, di atas fondasi yang rapuh itu, narasi kebesaran terus diproduksi. Para pemimpin berlomba membangun citra sebagai “arsitek perubahan,” seolah-olah Bolmong sedang melesat menuju kemajuan spektakuler. Padahal di balik baliho dan slogan, yang tersisa hanyalah kesenjangan antara kata dan kenyataan.
Jargon “Bolmong JUARA” (Maju dan Sejahtera) yang diusung oleh kepemimpinan hari ini terdengar megah, bahkan menggoda. Namun slogan, seindah apa pun, tidak pernah cukup untuk menutupi fakta bahwa masyarakat masih bergulat dengan kebutuhan dasar. JUARA dalam konteks ini justru terasa seperti ironi sebuah klaim kemenangan di tengah medan yang belum pernah benar-benar dimenangkan.
Lebih problematik lagi, budaya politik di Bolmong tampak terjebak dalam siklus yang sama. Yakni, memproduksi janji, memoles citra, lalu mengulang kegagalan. Evaluasi jujur nyaris absen. Kritik dianggap ancaman, bukan bahan bakar perbaikan. Akibatnya, pembangunan berjalan tanpa arah yang jelas seperti kapal besar tanpa kompas, bergerak tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Jika usia 72 tahun diibaratkan manusia, maka Bolmong seharusnya telah matang dan mapan dalam identitas, tegas dalam arah, dan kuat dalam pijakan. Namun yang tampak justru sebaliknya, kebingungan kolektif yang dibungkus dengan optimisme semu. Terlalu lama waktu yang dihabiskan hanya untuk mencari arah, sementara masyarakat menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Penulis sempat berfikir dan berasumsi, sampai kapan Bolmong akan menjadi “JUARA” dalam retorika, tetapi tertinggal dalam realitas?
Sudahlah membuat narasi besar itu dibongkar. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyelamatkan. Sebab tanpa keberanian mengakui kegagalan, tidak akan pernah ada kemajuan yang nyata. Bolmong tidak membutuhkan lebih banyak slogan, tapi membutuhkan kejujuran, keberanian, dan kerja nyata yang bisa dirasakan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Jika tidak, maka “JUARA” hanya akan menjadi singkatan kosong. Jargon Usang, Ambisi Retoris Abadi.











